INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia. This journal is firstly published on February 5, 2016, in the context to commemorate an anniversary of HMI (Himpunan Mahasiswa Islam or Association of Islamic University Students) in Indonesia. The INSANCITA journal is published twice a year, i.e. every February and August; and it is organized by Alumni of HMI who work as Lecturers at the HEIs (Higher Education Institutions) in Indonesia; and published by Minda Masagi Press as a publishing house owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia.

INSANCITA Journal, Issue of February 2016


MENGENANG LAFRAN PANE

11.lafran.pane

Jurnal INSANCITA ini terbit dalam rangka menyambut Dies Natalis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang ke-69, yakni pada tanggal 5 Februari 2016. Jurnal ini terbit setiap bulan Februari dan Agustus. Tujuan penerbitan jurnal INSANCITA adalah untuk menampung dan mendiseminasikan hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang cerdas dan bernas tentang Islam, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kawasan Asia Tenggara, dan bahkan dunia. Setiap edisi, dalam Kata Pengantar, akan disajikan Profil Singkat para Ketua Umum PB (Pengurus Besar) HMI di Indonesia. Dalam edisi kali ini disajikan sosok Lafran Pane, untuk dikenang, sebagai tokoh penggagas dan pendiri HMI di Yogyakarta, pada tanggal 5 Februari 1947, dalam suasana revolusi kemerdekaan Indonesia.

Lafran Pane lahir pada tanggal 5 Februari 1922 di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pada waktu mendirikan HMI dan menjadi Ketuanya yang pertama, ia berusia 25 tahun. Secara kebetulan atau tidak, Dies Natalis HMI bertepatan dengan hari lahir Lafran Pane. Ayahanda Lafran Pane bernama Pangurabaan Pane, dan merupakan tokoh nasionalis dari PARTINDO (Partai Indonesia) di Sumatera Utara, pada zaman pergerakan nasional Indonesia. Ayahanda Lafran Pane sehari-hari berprofesi sebagai guru dan seniman Batak Mandailing. Pengaruh Islam datang dari garis neneknya, seorang ulama besar Islam bernama Syech Badurrahman. Dua saudara kandung Lafran Pane adalah pujangga dan sastrawan terkenal di Indonesia, dan yang tergabung dalam Angkatan 1945, yaitu Sanusi Pane dan Armijn Pane.

Pendidikan Lafran Pane di bangku sekolah dimulainya di pesantren Muhammadiyah Sipirok dan Sekolah Desa 3 tahun, semuanya tidak tamat. Lalu Lafran Pane pindah ke Sibolga, masuk Sekolah HIS (Hollandsche Inlandshe School) Muhammadiyah. Kemudian kembali lagi ke Sipirok, masuk Ibtidaiyah dan diteruskan ke Wustha. Dari Wustha, Lafran Pane pindah ke Taman Antara, Taman Siswa di Sipirok. Selanjutnya ia pindah ke Taman Antara, Taman Siswa di Medan, Sumatera Utara. Tekadnya yang kuat untuk menimba ilmu, membawanya ke tanah Jawa, tepatnya ke Yogyakarta. Di kota inilah organisasi HMI didirikan, yang diprakarsai oleh Lafran Pane.

Kelahiran HMI, pada hari Rabu, tanggal 5 Februari 1947, atau bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 Hijriah, tidak dapat dipisahkan dari suasana sosial-politik yang sedang berkembang pada waktu itu. Lafran Pane, sebagai seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam) Yogyakarta, merasakan suasana dominasi pengaruh dari organisasi kepemudaan dan mahasiswa yang berhaluan Sosialis dan Komunis, yang sudah berjalan sejak tahun 1945. Organisasi PMJ (Perserikatan Mahasiswa Jogjakarta), yang sudah ada lebih dulu, selain dipengaruhi oleh aktifis Sosialis, juga dianggap oleh Lafran Pane sebagai hadirnya gaya hidup hedonis yang jauh dari nilai-nilai Islami. Inilah yang mendorong Lafran Pane memprakarsai untuk mendirikan organisasi mahasiswa Islam.

Sementara itu, suasana revolusi dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia ikut pula mempengaruhi kelahiran HMI. Demikianlah, HMI lahir sebagai organisasi mahasiswa yang berlabelkan “Islam” pertama di Indonesia, dengan dua tujuan dasar: (1) mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia; serta (2) menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Dua tujuan inilah yang kelak menjadi pondasi dasar gerakan HMI, baik sebagai organisasi maupun bagi individu-individu yang pernah dikader di HMI. Sementara sifat sebagai organisasi “independen” dilekatkan untuk menghindari tarik-menarik kepentingan politik praktis dari luar tubuh HMI.

Lafran Pane memanfaatkan ruang kuliah di STI Yogyakarta untuk memaparkan persiapan pembentukan HMI. Semula, memang ada yang meragukan kelangsungan HMI, karena kalau menilik keseharian Lafran Pane, ia bukanlah seorang orator yang hebat dan cara berbicara Lafran Pane pun tidaklah lancar. Namun, kegigihan Lafran Pane dalam mengembangkan organisasi HMI akhirnya membuahkan hasil juga. Dalam menyambut ulang tahun pertama HMI, 5 Februari 1948, Panglima Besar Jenderal Soedirman turut hadir dan memberi Kata Sambutan, serta menyebut HMI tidak hanya sebagai “Harapan Masyarakat Islam”, tetapi juga “Harapan Masyarakat Indonesia”. Ini menunjukan bahwa Panglima Besar Jenderal Soedirman, sebagai Bapak TNI (Tentara Nasional Indonesia), sudah memperkirakan peran penting HMI dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia di masa depan.

Sebelum tamat dari STI Yogyakarta, pada bulan April 1948, Lafran Pane pindah ke AIP UGM (Akademi Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada). Tercatat dalam sejarah UGM Yogyakarta bahwa Lafran Pane termasuk salah satu mahasiswa yang pertama kali lulus mencapai gelar Sarjana, yaitu tanggal 26 Januari 1953. Dengan sendirinya, Lafran Pane menjadi salah satu Sarjana Ilmu Politik pertama di Indonesia. Karier selanjutnya setelah menjadi Alumni HMI dan menjadi Sarjana, Lafran Pane lebih tertarik dalam lapangan pendidikan. Lafran Pane kemudian tercatat sebagai dosen Ilmu Tata Negara di Fakultas Sosial dan Politik UGM, UII (Universitas Islam Indonesia), UNMUH (Universitas Muhammadyah), dan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Kalijaga, semuanya di Yogyakarta.

Organisasi HMI terus berkembang pada masa pasca revolusi kemerdekaan Indonesia. Bahkan, kelahiran HMI pada masa revolusi Indonesia, tahun 1940-an, telah mendorong lahirnya organisasi mahasiswa lain, seperti PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), dan GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), pada tahun 1950-an dan 1960-an, setelah revolusi kemerdekaan Indonesia selesai. Lafran Pane sendiri terus mengikuti dinamika dan perkembangan HMI, organisasi yang didirikannya itu, dengan sikap sebagai seorang yang sederhana, low profile, dan mengayomi. Sikap “low profile” Lafran Pane sebenarnya sudah ditunjukkan ketika dia mundur sebagai Ketua HMI pada tahun 1949, dan hanya ingin menjadi Wakil Ketua untuk memberikan kesempatan pada orang lain.

Lafran Pane tidak pernah berhenti meluangkan waktunya untuk menemui kader-kader HMI yang mulai banyak, baik secara kuantitas maupun kualitas, di Indonesia. Tahun 1950-an dan 1960-an, Lafran Pane menyaksikan sendiri dan mengalami langsung dinamika dan konflik politik di Indonesia, yang ikut berimbas pada keberadaan dan peran HMI. Organisasi yang didirikan oleh Lafran Pane ini acapkali dicap sebagai “anak” MASYUMI (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), yang ketika partai politik itu dibubarkan oleh pemerintahan Soekarno, menjadikan lawan-lawan politik yang anti-Islam mengambil kesempatan untuk “mengganyang” HMI. Tapi HMI tetap eksis, dan bahkan banyak dari para anggota, kader, dan alumninya kemudian ikut andil dalam meruntuhkan pemerintahan Orde Lama-nya Soekarno untuk digantikan oleh pemerintahan Orde Baru-nya Soeharto pada tahun 1966.

Hidup di zaman Orde Baru yang serba otoritarian dan represif, menjadikan banyak anggota, kader, dan alumni HMI yang ikut dalam arus modernisasi dan pembangunan ekonomi di satu sisi, tetapi banyak pula yang tetap ingin mempertahankan independensi dan sikap kritisnya kepada pemerintah. Lafran Pane sendiri, pada tahun 1970-an, diangkat sebagai Guru Besar dalam mata kuliah Ilmu Tata Negara pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidian) Yogyakarta. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar, Lafran Pane mengatakan bahwa Pancasila harus dipertahankan sebagai dasar negara Republik Indonesia. Namun, Lafran Pane juga menentang adanya monopoli penafsiran atas Pancasila. Ia memandang hal semacam itu akan menyebabkan Pancasila menjadi sebuah ideologi yang tidak mampu bertahan mengikuti perkembangan zaman.

Lafran Pane pernah menjadi anggota DPA RI (Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia) pada masa Orde Baru, atas usul yuniornya. Lafran Pane sendiri sebenarnya tidak menghendaki jabatan tersebut, karena dianggapnya sebagai sebuah kemewahan. Namun, yuniornya mendorongnya untuk menerima jabatan tersebut. Dalam menikmati hari-hari pensiunnya, pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an, Lafran Pane tidak berhenti meluangkan waktu untuk berdialog dan mengikuti dinamika perkembangan HMI. Sikap hidup sederhana Lafran Pane, di usia pensiunnya, juga ditunjukkan dengan sehari-hari dia masih terlihat mengayuh sepeda tuanya di jalan-jalan kota Yogyakarta.

Prof. Drs. Lafran Pane meninggal dunia pada tanggal 25 Januari 1991, dalam usia 69 tahun. Kini organisasi HMI, termasuk para anggota, kader, dan alumninya di seluruh Indonesia, sedang mengusulkan kepada pemerintah agar Lafran Pane ditetapkan sebagai “Pahlawan Nasional”, mengingat kiprah, pemikiran, dan perannya yang besar dalam mewujudkan cita-cita HMI, yakni sebagai INSANCITA yang akademis, pencipta, dan pengabdi bagi kemajuan, kemodernan, keadilan, dan kesejahteraan umat Islam dan seluruh rakyat Indonesia. Semoga Allah SWT (Subhanahu Wa-Ta’ala) menerima iman, Islam, dan amal sholeh Lafran Pane, serta menempatkan Allahyarham di sisi-Nya. Amin ya Robbal ‘Alamin. [MAS].

Contents
INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia and Southeast Asia,
Volume 1(1) February 2016.

KAMALDEEN OLAWALE SULAIMAN,
Misinterpretation of Some Islamic Teachings and Traditions as Gender Discrimination Against Women.

RATNA TIHARITA SETIAWARDHANI,
Peran Perempuan dalam Perspektif Islam: Konteks Kekinian.

MUHAMAD ZAHIRI AWANG MAT, NORAINI ABD RAHMAN & SAFIRA AWANG,
Kajian Tindakan Kaedah Nasyid dalam Membaiki Bacaan Tahiyyat dalam Kalangan Murid-murid Sekolah Rendah.

SARIM ABBAS & MOHAMMAD JALALUDDIN,
Ethics and Morality in Islam and Hinduism.

HARRY AZHAR AZIS,
Himpunan Mahasiswa Islam dan Kesejahteraan: Konteks Indonesia.

ROHANA TAN, NORHASNI ZAINAL ABIDDIN & ANDI SUWIRTA,
Faktor yang Mempengaruhi Penghayatan Akhlak Islam dalam Kalangan Belia di Sebuah Institusi Pengajian Tinggi Awam Malaysia.

SHUAIBU UMAR GOKARU & AIZAN ALI @ MATZIN,
Diseases and Remedies of Al-Kibr in the Light of Uthman bin Foduye’s Shifa’ al-Nufus.

BERLIANA KARTAKUSUMAH,
Pengembangan Kepemimpinan Tokoh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dalam Perspektif Pembelajaran Sepanjang Hayat.

RAHMAN NURDIN SALEH,
Arah Politik Gerakan Islam pada Dua Zaman: Studi Komparatif antara Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Partai Keadilan Sejahtera di Indonesia.

FARHANA MOHAMAD RADZI, SITI SALWA MD SAWARI & MOHD AL-’IKHSAN GHAZALI,
Assessing Students’ Spiritual Practice in IIUM (International Islamic University of Malaysia).

Full.text.in.PDF.12.Dafis.incita.2.16.ok

Full.text.in.PDF.11.info.edu.incita.2.16.ok

Journal cover:

insancita.cover.1

Read More